Gamelan Beleganjur

Dalam artikel Babad Bali, Gamelan Beleganjur dijelaskan dapat dimainkan dalam tempo cepat atau sedang dan pelan.

Barungan ini ada kalanya dilengkapi dengan sebuah tawa-tawa. Sementara cengceng dimainkan secara kakilitan atau cecandatan, dengan pola ritme yang bervariasi dari pukulan besik atau negteg pukulan "telu" dan "nenem" di mana masing-masing terdiri dari pukulan polos (sejalan dengan mat), sangsih (disela-sela mat), dan sanglot (di antaranya). Sama hanya dengan cengceng, gilak dari reyong menjadi satu-satunya kelompok instrumen pembawa melodi baik cepat, sedang maupun lambat.

Perkembangan beleganjur menurut kutipan dari Lomba Beleganjur se-Bali, Rangkaian Festival Seni Budaya Badung, perkembangannya begitu pesat di Bali yang merupakan satu diantara musik pukul gamelan tradisional Bali yang banyak peminatnya menjadi salah satu primadona Festival Seni Budaya ke-5 Kabupaten Badung.

Dari berkesenian ini banyak lahir seniman-seniman baru yang memberikan warna tersendiri dalam olah harmoni dan keindahan ketukan mengolah alat pukul tradional ini.


Perpaduan kendang, kempul dan cengceng yang begitu serasi dan energik dipadukan dengan gerak tari penarinya membuat Beleganjur selalu ramai dan menjadi ikon setiap perhelatan Festival Seni Budaya Badung.

Dimana belakangan ini seniman-seniman berkesenian  beleganjur  selalu menyajikan sajian yang begitu atraktif antara keharmonisan gerak tari dan keserasian tabuhnya yang penuh dengan nilai seni yang luhur.

Selain digunakan dalam ritual keagamaan, festiva dan lomba - lomba, arak-arakan ogoh-ogoh seperti yang dikutip dalam artikel dphotostudio.net/ogoh-ogoh/, juga diiringi dengan gambelan beleganjur, para pemuda dan pemudi wajib untuk ikut dalam prosesi ini, para pemuda membawa ogoh-ogoh dipundak mereka dan para pemudi membawa obor serta para orang tua mengiringi dengan beleganjur dan di setiap perempatan.

***
Beleganjur Musik Tradisional Bali