Search

Memuat...

Pesta Kesenian Bali (PKB)

Dikutip dalam Sejarah Pesta Kesenian Bali, PKB yang rutin diadakan setiap tahun sekali, diadakan pertama kali pada tahun 1979 dan Almarhum Bapak Prof. Dr. Ida Bagus Mantra sebagai penggagas awal pergelaran acara ini.

Dijelaskan PKB ini adalah sebagai media dan sarana untuk menggali dan melestarikan seni budaya serta meningkatkan kesejahteraan. Penggalian dan pelestarian seni budaya meliputi filosofi, nilai-nilai luhur dan universal, konsep-konsep dasar, warisan budaya baik benda atau bukan benda yang bernilai sejarah tinggi, ilmu pengetahuan dan seni sebagai representasi peradaban serta pengembangan kesenian melalui kreasi, inovasi, adaptasi budaya dengan harapan agar tetap hidup dan ajeg berkelanjutan dalam konteks perubahan waktu dan jaman serta dalam lingkungan yang selalu berubah.

Ditambahkan pula, tujuan dari penyelenggaraan Pesta Kesenian Bali (PKB) ini adalah untuk menampung hasil karya cipta, seni dan aspirasi berkesenian baik kesenian hasil rekonstruksi, seni hasil inovasi, atraksi kesenian serta apresiasi seni dan budaya masyarakat Bali khususnya.

Foto Gubernur Bali, Bapak Prof. Dr. Ida Bagus Mantra sedang memukul gong suatu tanda pembukaan Musyawarah Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa di Gedung RRi Denpasar. Oleh : Nyoman Djinar Setiawina
dalam blog Apa Arti – Pembangunan Dalam Kerangka Partisipasi Masyarakat?

Dan juga pada Pesta Kesenian Bali (PKB) yang pertama, pementasan sendratari sebagai pertunjukkan kolosal melibatkan banyak penari dan kesemuanya anak-anak dan untuk tari pendet saja dalam pergelaran ini menampilkan 40 orang penari. Pada waktu itu sendratari dipentaskan oleh SMKI dengan mempergunakan cerita Mahabrata yang mengambil judul “Sayembara Dewi Ambara”.

Dalam artikel Pesta kesenian Bali XXXIII, acara PKB ini digelar secara resmi ditandai dengan pawai kesenian yang berlangsung semarak. Ribuan masyarakat Bali berduyun-duyun menyaksikan pawai yang digelar di depan rumah jabatan Gubernur Bali gedung Jayasabha, Jalan Surapati, Denpasar. Pawai PKB disaksikan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, Gubernur Bali Made Mangku Pastika, dan kepala daerah kabupaten dan kota di Provinsi Bali. Ribuan masyarakat berdiri berjejer di sepanjang jalan Hayam Wuruk sepanjang dua kilometer dari lapangan Puputan Badung sampai lokasi PKB di Arda Candra, Art Center, Jalan Nusa Indah Denpasar. Anak-anak, muda-mudi hingga orang tua tampak berdesakan menyaksikan pawai PKB yang berlangsung tiap tahun tersebut.

Gubernur Bali Made Mangku Pastika menandai dimulainya Pesta Kesenian Bali XXXIII ini selama satu bulan dengan pemukulan gong. Setelah itu parade kesenian dari kabupaten dan kota di Bali dan provinsi lainnya serta duta-duta seni mancanegara.

Seperti PKB tahun sebelumnya, para duta seni dari daerah menampilkan ciri khas keseniannya, mulai dari pakaian adat, ritual pernikahan, tari-tarian hingga gamelan. Kabupaten Badung tampil dengan atraksi mekotekan, kabupaten Gianyar mengarak bade dan lembu dalan ritual Ngaben, Kabupaten Tabanan mengarak Ngaben tikus sebagai simbol membasmi hama yang menyerang sawah.

Dalam sapaannya kepada ribuan warga Bali, Gubernur Made Mangku Pastika mengatakan pihaknya akan memperbaiki pengaturan pawai sehingga memberikan kenyamanan kepada masyarakat dan wisatawan yang menyaksikannya.Ia berjanji PKB XXXIV tahun 2012 akan berjalan lebih nyaman dan lebih berkualitas lagi.

Data yang diperoleh dari panitia penyelenggara menyebutkan, PKB XXXIII ini melibatkan 15 ribu seniman dari Bali, 16 group dari luar Bali dan lima group dari luar negeri. Selama satu bulan ke depan para seniman itu akan memamerkan keseniannya melalui atraksi seni budaya yang berlangsung di Art Center Taman Budaya Bali. Khusus group kesenian dari luar negeri antara lain dari Jepang, Amerika Serikat, India, Malaysia dan Australia.
***
Bali Art Festival
(Pesta Kesenian Bali 2010)
Pertunjukan dari beberapa delegasi kabupaten dan kotamadya di Bali pada pembukaan pesta kesenian Bali 2010

Karangasem

Jembrana

Gianyar

Klungkung

Buleleng

Gamelan dan Tarian

Penabuh Wanita, Gong Kebyar. 1997